Overall Thanks 2020
Setelah saya menulis perilah awal tahun yang kurang baik di tahun lalu, saya ingin mencoba meluapkan apa yang ada di pikiran dan apa yang saya lalui selama tahun ini, ya tahun 2020 yang sangat singkat, membosankan, overall thanks 2020. Begini Ceritanya
Jahat Tidak Terlihat
Menilik kebelakang, sebelum pergantian tahun 2019-2020, wabah covid-19 muncul di dunia ini, menurut beberapa artikel yang saya baca, China tercatat sebagai negara pertama yang terjangkit kasus covid-19 ini, ya salah satu kota di China yang terdeteksi wabah ini di Wuhan, Provinsi Hubei, China.
Seingat saya dan kalau tidak salah, isu yang beredar di publik, virus tersebut disebabkan oleh kalelawar, namun entah benar atau tidak (perbaiki jika saya salah). Dari kasus tersebut membuat perhatian dari seluruh negara mewanti-wanti akan kehadiran virus tersebut di negaranya, namun di negara ku tercinta, virus tersebut awalnya dibuat bahan lelucon, ah sudah lah saya sayang menikmati lelucon itu, mulai dari yang dikaitkan dengan game, penulisan yang typo, bahkan dikaitkan dengan suku, maupun jenis-jenis makanan/herbal tradisional yang dimiliki Indonesia.
Di awal tahun 2020 pula, dibeberapa wilayah jakarta, bahkan tidak hanya di jakarta saja, melainkan sebagian besar wilayah yang ada di Indonesia, terkena bencana alam, ya banjir, seharusnya yang kita harapkan pada pergantian tahun adalah harapan yang indah, namun apa boleh buat, alam berbicara lain, kita sebagai masyarakat hanya bisa menyayangkan, dan berharap agar bencana banjir tersebut (di awal tahun 2020) cepat lah reda.
Beberapa hari kedepan, ratusan liter air yang terbenang di jalan-jalan bahkan rumah, telah menyurutkan dirinya, karena apa? ya tentunya karna Tuhan, kita yang selalu berdoa, pemerintah yang bergagas, dan tidak lupa jasa para relawan yang turut membantu para korban banjir, mulai saat itu terlihat sudah wajah-wajah tersenyum dari mulut kecil seorang anak yang berada di tenda pengungsian.
Pada bulan yang sama (Januari 2020) saya mulai kembali beraktivitas seperti biasanya, kuliah, nongkrong, mengerjakan tugas yang sangat membosankan, bermain game, melihat kelakuan perempuan bergaya ala-ala artis papan atas, pokonya banyak hal yang saya lakukan juga saya ingin jelajahi hal baru pada tahun 2020 ini.
Selang beberapa minggu kedepan, kasus covid-19 ini mulai merabak luas dan mulai meresahkan, beberapa stasiun televisi dan akun social media menayangkan kasus covid-19 ini. Stasiun, bandara, terminal yang ada di Indonesia di tutup seperti yang saya dengar. Di bulan januari/februari, seingat saya, sebagian besar kegiatan pembelajaran maupun pekerjaan mulai dirumahkan, yaa saya pikir langkah yang baik untuk meminimalisir penyebaran virus lebih kecil, disisi lain saya juga senang jika libur, eh bukan libur, saya rasa hanya pindah tempat belajar. Karena perkuliahan di lakukan di rumah masing-masing, maka pihak kampus pun menganjurkan untuk para mahasiswa/i nya untuk mengikuti perkuliahan daring dari dosenya masing-masing, dan mengerjakan tugas-tugas yang membosankan. Dari peristiwa tersebut mungkin terdengar asik bagi pelajar, namun disisi lain, banyak teman yang terkena phk dan kehilangan pekerjaanya.
Dari artikel yang saya baca (https://news.detik.com/), kasus pertama Covid-19 di Indonesia dikonfirmasi pada 2 Maret lalu, kasus pertama tersebut bermula dari pertemuan perempuan 31 tahun dengan WN Jepang yang masuk kewilayah Indonesia. Pertemuan tersebut terjadi disalah satu klub dansa di Jakarta pada 14 februari. Seperti yang saya bahas diatas, dari lelucon tersebut dan mitos yang katanya Indonesia 'kebal' corona pun telah patah.
Tradisi Yang Sangat Berbeda
Pada bulan april 2020, umat muslim menjalankan puasa di bulan ramadhan (biasa disebut bulan puasa) selama 30 hari, namun pada bulan puasa kali ini sangatlah berbeda dengan bulan puasa sebelum-sebelumnya, iyaa sangatlah berbeda, biasanya, pada bulan puasa sebelumnya, setiap sore saya selalu ngabuburit untuk menunggu adzan maghrib atau waktu berbuka, namun kali ini saya hanya bisa menonton film seharian, biasanya setelah berbuka saya ke masjid untuk shalat terawih (walaupun tidak sampai selesai) namun kali ini saya shalat terawih dirumah bersama keluarga saya, biasanya setelah sholat terawih saya nongkrong dengan teman-teman sampai waktu mendekati sahur, dan biasanya saya juga ikut teman saya membangunkan sahur, namun setelah selesai shalat terawih saya melanjutkan menonton film, sesekali juga saya keluar nongkrong disamping rumah bersama teman-teman dekat saya.
Hari-hari terus berlalu, sampai akhirnya puasa tinggal 1 hari lagi, berarti malam takbiran pun mulai menyambut, biasanya pada saat malam takbiran, saya dan teman saya selalu membuat berpergian kesuatu tempat, namun pada malam takbiran ini, kami hanya nongkrong di samping rumah saya, adzan isya mulai berkumandang, suara takbir pun mulai berkumandang dari satu masjid hingga masjid lainya, rasanya malam itu sangat lah hangat, sangatlah padat, sangatlah berwarna. Tidak terasa malam pun semakin larut, saking asiknya kami berbincang, tiba-tiba salah satu teman mengajak kami membeli jamu yang membuat otak menjadi kencang, yaa intisari namanya, seperti remaja brengsek pada umumnya, kami meminum minuman beralcohol itu sambil bercerita tentang kehidupan, semakin malam semakin pula kepala seperti mengencang, ketawa ketiwi, sampai akhirnya waktu sudah hampir mendekati subuh, kami pun bubar barisan dan pulang kerumah masing-masing.
Setelah dirumah saya langsung ke atas ranjang dan tidur sejenak, lagi tidur asik-asik, tiba-tiba orang tua saya membangunkan saya dari tidur yang nikmat untuk bergegas mandi dan bersiap untk melakukan shalat idul fitri. Dengan badan yang sepoyongan dan mata yang sedikit sayup, saya berusaha menuruni tangga, satu demi satu anak tangga saya gapai dengan berpegangan tiang disampingnya sampai akhirnya berada di depan kamar mandi, saya pun mandi, membasahi badan saya, mengusap-usap kepala saya agar saya cukup sadar, tidak lupa juga saya melakukan mandi besar.
Setelah mandi dan saya kira diri saya sudah siuman, saya lalu bersiap untuk menunaikan shalat idul fitri bersama keluarga saya, lagi-lagi pada tahun ini saya shalat hanya bersama keluarga, yang biasanya shalat di masjid.
Shalat pun selesai yang diimami oleh ayah saya, saya pun langsung berminta maaf dan memeluk ayah saya, dilanjutkan dengna ibu saya dan adik saya. Lalu setelah selesai shalat dan bermaaf-maafan kami pun makan opor ayam dengan ketupat yang dibuat sendiri oleh ibu saya, tidak lama dari itu sodara saya datang kerumah, seperti biasa, saya langsung menjabat tanganya dan berucap 'minal aidin walfaizin maafkan saya jika saya ada salah' dan dilanjutkan bermaafan virutal dengan sodara-sodara yang ada dikampung. Pada lebaran kali ini pun saya tidak bermaafan dengan tetangga setempat, kembali lagi karena pandemi ini yang membatasi kami. Setelah bermaaf-maafan saya pun langsung melanjutkan mimpi yang belm rampung.
Penulisan Ilmiah Yang Membosankan
Aktivitas pun sedikit terhambat, karna segala aktivitas yang biasa dilakukan, hanya bisa dilakukan dirumah. Pada bulan maret saya mulai menyusun Penulisan Ilmiah, pada Penulisan Ilmiah tersebut saya membuat website, ya website, sepertinya sudah tidak asing terdengar dikuping para pembaca, just information; saya membuat website dengan bahasa pemrogramman php.
Kurang lebih 4-5 bulan saya mengejar Penulisan Ilmiah untuk diselesaikan di semester ini, yaa seperti orang lain pada umumnya yang selalu kena revisi di setiap bab penulisanya, sayapun juga begitu, ah rasanya sangat membosankan jika harus merevisi penulisan tersebut, namun apa boleh buat. Karna perkuliahan daring, maka bimbingan pun juga daring, pada pertemuan pertama berjalan sangat lancar, karna dosen pembimbing saya hanya meminta judul dari penulisan yang akan dibuat, di ujung bimbingan pertama, judul saya di acc, dosen pembimbing saya juga menyuruh mahasiswa bimbinganya untuk melanjutkan membuat bab 1. Beberapa hari kedepan, akhirnya bab 1 sudah saya selesaikan, teman-teman sekelompok saya pun begitu, akhirnya kami pun mengikuti bimbingan untuk yang ke 2 kalinya, di bimbingan yang ke-2 ini, penulisan bab 1 kami disuruh revisi, (saya sedikit lupa apa yang harus direvisi) yang saya ingat, kami belum menggunakan metode penulisan yang dianjurkan , seperti ukuran kertas, ukuran font, jarak spasi, yaa semacam itu, setelah di berikan arahan oleh dosen pembimbing, kamipun diminta untuk sekalian membuat bab 2, 3 dan 4 , lebih tepatnya langsung di selesaikan.
Berbulan-bulan saya mengerjakan Penulisan ini, mungkin saya sedikit lamban, karna saya mengerjakan penulisan ini jika saya sedang mood untuk menulis, biasanya saya mengerjakan penulisan ini dimalam hari, entah kenapa, rasanya saya lebih nyaman di malam hari, oh ya tidak lupa dong ditemani oleh secangkir kopi dan beberapa batang roko.
Bab demi bab mulai saya rangkai dan akhirnya saya telah menyelesaikan penulisan ini. dari bab 2 , 3 ,dan 4 bahkan sampai dengan lampiran, tinggal menunggu dosen saya untuk menentukan tanggal bimbingan selanjutnya. Setelah beberapa minggu berlalu, akhirnya dosen pembimbing saya memberi kabar bahwa tanggal sekian (saya lupa tanggal berapa dan di bulan apa) kami melakukan bimbingan tatap muka untuk pertama kalinya, oh ya pada bulan itu sudah ditetapkan dimana boleh beraktivitas diluar rumah akan tetapi tetap menggunakan protokol kesehatan (benarkan jika saya salah), memakai masker, faceshield, dan di tanggal yang ditetapkan akhirnya saya menuju kekampus dan bimbingan tatap muka dengan 1 teman saya, iya hanya 1 teman saja, karna beberapa teman yang lain sedang berada di kampungnya.
Sungguh sial, dari penulisan yang saya kerjakan tersebut, ternyata masih terdapat beberapa bagian yang harus di perbaiki dan harus di tambahkan, akhirnya dari bimbingan singkat tersebut saya mendapatkan hasil revisi bukanya surat pernyataan untuk mendaftar sidang Penulisan Ilmiah.
Hari demi hari berlalu, setiap malamnya saya mengerjakan apa yang harus saya selesaikan pada saat ini, dengan berlagak seperti layaknya mba Najwa Shihab, mencari reverensi dari satu sumber ke sumber lainya agar terbentuknya tulisan yang bagus pada level ini. Menurut saya Penulisan Ilmiah ini sudah selesai dan saya rasa tidak ada yang keliru lagi, akhirnya saya mengabari dosen pembimbing bahwa tulisan saya sudah siap berada di antara buku-buku lain diperpustakaan kampus.
Pada hari itu, merupakan hari dimana kami (kelompok PI) terakhir kalinya bimbingan, pada bimbingan itu pula kami diberikan surat acc dari dosen pembimbing untuk mendaftar sidang PI.
Di hari setelahnya, saya mendaftarkan diri untuk sidang PI, tak lama dari itu, saya dimasukan di grup whatsapp yang isi nya mahasiswa/i yang siap untuk sidang PI. Hari demi hari saya menunggu tanggal sidang saya, oh sungguh sangat membosankan, setiap kali mahasiswa yang mendapati tanggal sidang lebih dahulu dan mahasiswa/i yang belum mendapatkan tanggal sidang, harus menginputkan nama dan npm ulang disetiap broadcast yang diberikan oleh pengurus, ya mau bagaimana, karna (kalau tidak salah) di grup tersebut pengurusnya hanya satu, semoga berkah ibu pengurus.
Setelah berhari-hari menunggu akhirnya saya mendapatkan tanggal sidang, kebetulan juga tanggal sidang saya berbarengan dengan tanggal sidang teman saya, hanya saja beda ruangan. Akhirnya saya dan teman saya sidang bersama dirumah saya, dengan rambut yang menjulai kebawah sedikit bergelombang, memakai kemeja putih dan celana bahan hitam layaknya seorang pemagang di pom bensin saya memulia sidang online tersebut. Kata demi kata saya presentasikan, dan di akhir pengujung presentasi saya diberikan beberapa pertanyaan yang saya sudah kuasai sebelumnya, alhasil saya memberikan jawaban dengan luasa. Sudah tidak heran jika setelah sidang pasti dibeberapa bagian ada yang harus direvisi, tapi, untungnya saja pada penulisan saya yang saya kerjakan, hanya diberi 2 revisi oleh dosen penguji.
Pada habit yang ada, biasanya setelah sidang selesai, berfoto-foto dan di upload ke social media, tidak lain dan tidak bukan pastinya di upload ke instagram, bukan ucapan congrats atau tetekbengek semacamnya, saya hanya ingin foto saya di repost oleh anda wahai followers tercinta hehe. Lucunya lagi, tidak sedikit yang mengira bahwa saya telah lulus kuliah, padahal itu hanya lulus di sidang online Penulisan Ilmiah saja.
Iseng-iseng Berhadiah
Pada semester 6, di kampus saya tercinta, jurusan sistem informasi, bahkan bukan hanya jurusan sistem informasi saja, sedang berlangsungnya Penulisan Ilmiah, ketika itu seorang teman memberikan kepercayaan kepada saya untuk membuatkan program dari Penulisan yang dia buat, tanpa saya memikir lebih dalam, langsung saya ambil tawaran tersebut, soal harga, jangan diragukan, ya itung-itung nyambi belajar buat saya.
Code demi code mulai saya ketik, code demi code mulai saya pahami, ber-gadang hingga larut malam, bahkan sampai adzan subuh berkumandang, sampai mata mulai membisikan ; 'hai aku sangat lelah, bisakah kau tidur sebentar', sesekali beranjak dari kursi untuk perenggangan badan yang mulai mengkaku, juga tidak jarang pada program yang sedang saya kerjakan terdapat error, mulai mencari tau kesana-sini, sampai akhirnya terbentuk sebuah program yang dapat di jalankan. Dari situ saya belajar bahwa "Have patience. All things are difficult before they become easy - saadi".
Mulai dari 1 orang teman dan dari mulut ke mulut, tawaran tersebut mulai membanjiri isi chat whatsapp saya, bisa dibilang di tahun ini adalah tahun keberuntungan saya, 1 keinginan saya sudah mulai tercapai, yaa membeli sepeda motor, bukan motor vespa metic atau motor yang harganya di atas 10 juta, melainkan motor tua yang harganya dibawah itu yang pastinya bersejarah, oh yaa dan juga clasic pastinya, honda 70c namanya, sudah saya miliki pada tahun ini. Sebuah pencapaian bukan?.
Penolakan Omnibuslaw
Pada bulan Oktober lalu, pemerintah baru saja menetapkan Undang-undang omnibuslaw, dari keputusan tersebut mengundang penolakan dari buruh hingga mahasiswa. Tepatnya pada tanggal 8 Oktober, mayoritas mahasiswa/i dan dari kampus yang berbeda turut turun kejalan dan bergabung dengan para buruh untuk menyuarakan atas keputusan yang telah ditetapkan oleh pemerintah dari isi UU omnibuslaw tersebut.
Pagi itu, saya memberi kabar kepada teman saya bahwa hari ini saya turut berkontribusi akan hal ini, dan saya mendapatkan respon dari 2 teman saya, kebetulan ke-2 teman saya rumahnya tidak terlalu jauh dengan saya, akhirnya kami pun berangkat bareng menuju titik kumpul yang di konrdinasikan oleh Korlap kampus saya. Yang diiming-imingin mahasiswa/i yang turut ikut aksi, diharapkan kumpul di tempat yang telah di berikan padapukul 09.00 (kalau tidak salah), namun saya dan teman saya datangya sangat telat, saya pikir mereka sudah jalan terlebih dahulu, ternyata masih banyak juga yang baru sampai kampus.
Beberapa menit kami menunggu, akhirnya kami dipersilahkan untuk menempati dan memasuki patas/kopaja yang disediakan. Panas yang menyengat ditambah lagi alamameter yang saya kenakan, membuat badan seperti di panggang selama 5 menit, tidak tahan akan hal itu saya memutuskan untuk keluar dari kopaja/patas tersebut dan membakar sebatang roko yang saya punya dan berbincang degan teman saya, tidak lama dari obrolan saya, ada seorang ibu-ibu dengan mobil mewahnya melewati kopaja yang sedang terparkir dibibir jalan, dan melambai-lambaikan uang berwarna merah untuk diberikan kepada kami, akhirnya salah satu dari mahasiswa mengambil uang tersebut, sangat beruntung bukan?.
Tidak lama dari peristiwa tersebut, ada sedikit pertingkaian dengan bapak Polisi, entah apa penyebabnya, mahasiswa/i berbondong-bondong turun dari patas/kopaja memenuhi seisi jalan, karena kepo dengan hal tersebut, akhirnya saya memutuskan untuk jalan ke depan kerumunan dan mencari tahu apa yang sedang terjadi, dan ternyata, supir dari patas/kopaja kami ditahan entah apa penyebabnya, cukup lama kami berdebat dengan bapak polisi, akhirnya korlap kami memutuskan untuk para demonstran berjalan kaki, ohh sungguh melelahkan, saya fikir, hal ini untuk mengecoh para polisi yang menghadang dan kami akan di jemput kembali oleh supir-supir yang ditahan disana. Mau tidak mau kami semua berbondong-bondong dan membuat border berjalan menyusuri jalanan yang amat jauh. Beberapa KM kami berjalan, ternyata di depan sana, sudah ada barisan polisi yang memblockade jalan kami, tanpa memikir panjang, kami pun melewati jalan yang melawan arah.
Sudah cukup jauh kami melangkah, dan akhirnya kami telah sampai di salah satu kampus, disana kami semua beristirahat sambil membeli minuman, diwaktu yang bersamaan tim yang membawa sepeda motor memberi kabar, bahwa setiap jalan sudah ada blockade polisi, entah apa yang didiskusikan, selang dari itu akhirnya diputuskan untuk berjalan kembali ke tempat demo yang telah ditentukan oleh korlap kampus saya. Akhirnya kami pun jalan kembali, disepanjang jalan kami dilihat dan disoraki sambil memegang hp untuk mengambil video pastinya oleh para warga, kami seperti pahlawan dengan pedang di lingkar pinggang, kami jalan serentak dan menyanyikan yel-yel . Setapak demi setapak kami lalui, berkilo-kilo meter kami lalui, banyak dari mahasiswa/i yang bm-an (menumpang mobil pickup/semacamnya) dari situ banyak dari kami yang memecah, karena sudah kelelahan, akhirnya saya dan teman saya juga ikut bm-an, kami menaiki truk yang pastinya penumpangnya adalah mahasiswa/i dari kampus saya dan beberapa barang milik pak supir, akhirnya saya bisa duduk tenang dan menikmati angin yang berhembus kencang selama perjalanan. Di perjalanan kami ini, banyak dari para warga yang membantu kami, dengan memberikan 1 dus minuman dan semacamnya.
Sangatlah beruntung, dari truk yang kami tumpangi, kebetulan pak supir juga ingin ke arah bundaran HI, kami sangat beruntung, karena tidak harus turun dan mencari mobil pickup kembali, setelah sampainya di Bundaran HI, disanan ternyata sudah ramai para demonstran, dari buruh sampai mahasiswa, oh ya kami juga merupakan kelompok pertama dari kampus saya yang sampai di Bundaran HI. Kami beristirahat sejenak sambil memakan roti yang dibagikan oleh mahasiswa dari kampus saya. tidak lama kami beristirahat, ada segerombolan bapak-ibu yang menghampiri kami dan bertanya-tanya, sambil bercerita tentang mereka semasa mereka masih duduk dibangku kuliah, sambil ketawa-ketiwi, di akhir perbincangan tersebut akhirnya mereka pun meninggalkan kami dan sebelum itu beliau berfoto bersama kami dengan mengepalkan tangan keatas. Diwaktu yang bersamaan pula, akhirnya ada kelompok dari kampus saya yang baru sampai dan berbarengan dengan mobil orasi yang juga baru sampai, dengan suara yang lantang penuh amarah, beliau menyuarakan keluh kesahnya.
Selang waktu yang cukup lama, akhirnya kami semua berjalan ke arah Thamrin, di 1/4 perjalanan beberapa dari kami ingin membuang air kecil, begitu juga dengan saya, kami sedikit kebingungan ingin membuang air kecil dimana, akhirnya kami pun kembali ke bundaran hi, dan mencari toilet, saya lupa di mana, tidak jauh dari Grand Indonesia terdapat musholah dan kami menumpang membuang air kecil disana. Setelah puas membuang air kecil dan mencuci muka, kami pun berjalan kembali menyusuri jalan thamrin, di sepanjang jalan cukup ramai para demonstran, tidak jauh kami berjalan, ternyata terdapat sekumpulan yang cukup ramai dari kampus saya,kami pun join dengan sekumpulan tersebut. Tidak lama dari itu, mulai terdengan benturan kaki yang berlali dari arah depan, sontak saya langsung berdiri dan melihat apa yang terjadi, sayang sekali ternyata tidak terlihat apa-apa, dan mereka hanya berteriak bahwa mereka di kejar oleh polisi yang mengendarai motor, tapi saya rasa tidak. Dari kejadian itu, saya dan beberapa teman saya memutuskan berjalan lebih kedepan lagi untuk melihat apa yang terjadi, tepat di persimpangan Bawaslu, disana sangat ramai para demonstran yang mengamuk, menghancurkan pos polisi, membakar ban, dan semacamnya, cukup lama kami berdiam dan memantau disana, ternyata didepan sana masih banyak demonstran, kami pun memutuskan berjalan lebih depan lagi, perlahan kami berjalan, disana terlihat mobil orasi sedang menyuarakan sebuah aspirasi, setelah saya menaiki pembatas beton, saya juga melihat didepan sana sedang chaos, karena penasaran, saya dan beberapa teman sana melihat apa yang sedang terjadi, baru saja kami sampai di pembatas blockade, dari kejauah terdengan letusan senjata gas air mata, dari udara mulai terlihat kumpulan asap putih yang ingin turun kejalan, akhirnya kami pun mundur perlahan sambil merasakan pedihnya gas air mata yang membuat mata saya perlahan memerah dan mengeluarkan sedikit air mata. Karena tidak kuasa menahan efek dari gas air mata, akhirnya saya dan beberapa teman munduk ke barisan belakang dan kami memutuskan kembali kebundaran HI. Dari kejauahan saya melihat gumpalan asap hitam tebal melambung ke udara seperti layaknya rumah yang terbakar, langkah demi langkah kami berjalan, sumber asap tersebut sudah mulai terlihat, ternyata disana demonstran sedang membabi-buta, membakar sebuah fasilitas publik, yaa halte busway yang terbakar, sungguh malang, dia yang tidak bersahal apa-apa ikut terkena masalah, perlahan kami menghampiri halte busway yang sedang terbakar, saya pun merasakan panas api yang sangat panas saat melewati halte tersebut.
Singkat cerita, akhirnya kami telah sampai di simpang jalan bundaran HI, kami lagi-lagi beristirahat disana, tanpa disadari hari sudah sangat sore, abu-abu yang berterbangan, suara ledakan, seperti didalam zona perang, selang dari kami beristirahat, tepat di depan kami terdapat sekumpulan demonstran yang mencoba menggapai salah satu tiang yang ada disana, beberapa orang mencoba dan tidak ada yang berhasil sampai atas, dan upaya terakhir, ada salah satu orang yang sangat cekatan akan manjan-memanjat, dengan lihai dan cepat dia memanjat dengan bendera merah putih di pinggangnya dan dia akhirnya mencapai tiang tersebut dan mengikatkan bendera merah putih diantara penyangga tiang tersebut, kami pun beramai-ramai menyanyikan salah satu lagu kebangsaan Indonesia, sangat merinding!
Matahari enggan menampakan dirinya, menunjukan hari sudah mulai malam, suara adzan maghrib berkumandang, setelah itu kami menyiapkan diri untuk bergegas pulang kerumah dengan bm-an (menumpang mobil pick-up). Tidak lama kami berjalan, berbondong-bondong demonstran berlari berhamburan, sepontan kami pun ikut berlari, setelah saya mengetahui penyebabnya, para polisi telah mengepung para demonstran dari bundaran HI, untung saja kami bergegas lebih cepat, jika kami masih disana, entahlah. Perlahan orang-orang telah menyusul saya berlari, saya sangat kelelahan pada saat itu, dengan sekuat tenaga saya berlari, dari peristiwa tersebut saya sempat terpecah dengan teman-teman saya, dan pada akhirnya kami bertemu kembali di salah satu jalan (saya lupa) kami pun terus melanjutkan perjalanan. Setelah lama kami berjalan, akhirnya kami memutuskan untuk berhenti sejenak, membeli minum dan membakar sebatang rokok. tidak lama dari kami beristirahat, terdengan suara sirene yang membuat saya sepontan berdiri dan ingin rasanya kaki ini berlali sekencang-kencangnya, oh sungguh menjengkelkan, karna suara tersebut merupakan sirene ambulan, akhirnya kami duduk kembali. 15 menit berlalu, kami pun melanjutkan perjalanan, sampi bertemu dengan simpang jalan, kami menunggu disanan dan berharap ada mobil pick-up yang mau kami tumpangi, cukup lama kami menunggu, teman saya menyarankan untuk berjalan pelan-pelan, itung-itung mencicil waktu yang terbuang, siapa tau di simpangan selanjutnya kami dapat. Benar saja, tidak lama kami berjalan sampai simpangan selanjutnya, ada truck yang berisi demonstran yg cukup banyak, kami berlari mengejar truck yg sedang berjalan pelan itu, untungnya, demonstran yang di truck itu memberhentikan trucknya dan mempersilahkan kami naik keatas truck tersebut, ohhh akhirnya kami bisa santai disana, merasakan angin yang sangat kencang, namun, sayangnya tidak bisa duduk, karna didalam truck itu kami semua berempetan. Jalan demi jalan kami lewati, di setiap jalan kami menemui beberapa demonstran yang masih berjalan, mau bagaimana, truck yang saya tumpangi sudah cukup penuh, tidak lama dari itu, beberapa rombongan demonstran ingin ikut dengan truck kami, sudah kami bilang bahwa truck kami sudah sangat penuh, namu demonstran itu tidak mendengarkanya, beberapa demonstran berhasil naik, namun naasnya salah satu dari mereka ada yang terjatuh dan sangat disayangkan kaki orang tersebut terlindas oleh ban truck, saya merasa seperti truk ini melewati polisi tidur, sakit sekali pastinya, akhirnya teman dari rombongan tersebut memutuskan untuk turun dari truk dan menyelamatkan temanya.
Tidak lama dari kejadian itu, tiba-tiba salah satu teman saya jatuh pingsan, entah apa penyebabnya, saya langsung menghampirinya, dan mengangkatnya agar dia sadar, untung saja saya bawa minyak tawon (saya tidak tahu ini berfungsi atau tidak) langsung saya banjiri dan saya urut leher teman saya dengan minyak yang saya bawa, tak lama, akhirnya teman saya sadarkan diri. Truk terus berjalan, karna sudah malam, jalananpun sepi, dan akhirnya taklama kami pun sampai di kampus saya, sebelum beranjak pulang, kami pun makan terlebih dahulu, mengisi perut yang sudah merengek layaknya anak bayi, dan setelah makan kami pun pulang kerumah masing-masing.
Pengunjung Tahun 2020
Pada beberapa tahun kebelakang, beberapa hari sebelum malam tahun baru menyambut, pastinya saya sebagai lelaki yang tidak terlalu tampan, saya juga berkesempatan untuk mengajak wanita untuk berjalan-jalan ke pusat kota untuk melihat kembang api atau sekedang nongkrong bareng. Pada tahun ini lagi-lagi berbeda, tidak lain tidak bukan ya karna saya jomblo, kasihan bukan, malam tahun baru pun sendirian.
Tanggal 30 desember, salah satu teman kampus saya sedang main kerumah saya, dari berkabar di grup, satu persatu teman saya pun mulai berdatangan, dirumah saya pun hanya sekedar nongkrong, ngopi sambil berbincang santai, tidak lupa teman saya yang juga masih mengerjakan penulisan ilmiah dia yang belum selesai. Sore pun telah tiba, dan teman saya pun satu persatu mulai pulang dan sebelum salah satu teman saya pulang, teman saya mengajak kami untuk membuat acara di tahun baru nanti, ya acara yang selayaknya dilakukan pada malam tahun baru, seperti bakar-bakar, meminum intisari di gelas pelastik, bernyayi, berbincang sambil menunggu kembang api meledakan dirinya di langit.
Sungguh senang saya, karena malam tahun baru nanti saya tidak ada acara, saya sepontan langsung mengiyakan ajakan tersebut, dan teman saya pun juga menawarkan rumahnya untuk dijadikan tempat dimana kami berkumpul. Malamnya saya pun langsung berinisiatif untuk mengajak teman-teman kampus saya yang tidak memiliki acara melalui chat line, namun hanya beberapa saja yang bisa.
1 Hari pun berlalu yang menandakan bahwa nanti malam adalah malam tahun baru, teman saya yang menyediakan tempat pun mulai resah, mengabari saya, mengabari melalui grup, apakah acara ini akan terjadi atau tidak?!. Tentu saja saya pasti akan datang saya datang setelah adzan magrib, ucap saya, tidak lama salah satu teman saya yang rumahnya berada di depok pun menelepon saya untuk berangkat bareng menuju tempat kumpul kami, karena dia tidak tahu, juga teman saya yang berada di jakarta selatan, okee maka dari itu saya menunggu mereka ber-2 sampai kerumah saya lebih dahulu.
Setelah adzan ashar berkumandang, tidak lama dari waktu tersebut, mulailah satu persatu orang mendatangi warung untuk membeli 1 / bahkan lebih sekatong arang, tidak bukan dan tidak lain untuk mengadakan kegiatan bakar-bakar , pada waktu bersamaan suara musik dengan pengeras suara mulai terdengar bersahut sahutan dari 1 rumah ke rumah lainya dan juga diiringi dengan jarangnya suara kembang api yang meledak di langit. Berbarengan dengan itu, teman saya pun akhirnya sampai dirumah saya, dan saya persilahkan masuk ke kamar saya seperti biasanya, kami pun tinggal menunggu 1 teman lagi yang sedang dalam perjalanan kerumah saya, selagi menunggu teman saya yang dari jakarta selatan, kami pun bermain game, taklama pun teman saya yang dari jakarta selatan telah sampai kerumah saya. Tak lama dirumah saya, kami pun menuju kerumah teman yang menyediakan tempat tersebut.
Setelah kami semua berkumpul, kami pun sebenarnya tidak ada acara bakar-bakar sosis, ayam atau semacamnya, hanya sekedar nongkrong saja, pikir saya, dari pada kami hanya sekedar nongkrong saja dan tidak ada kegiatan lain, akhirnya kami semua pun berinisiatip patungan untuk membeli bahan-bahan untuk di bakar, seperti sosis, ayam dan semacamnya, tidak lupa 2 botol intisari tentunya. Namun saya meragukan akan toko yang masih buka dan bahan-bahan yang kami butuhkan masih tersedia, alhasil temen saya pun berangkat untuk mencari bahan-bahan makanan tersebut. Seling menunggu teman saya yang sedang belanja, kami bermain gitar dan bernyanyi-nyanyi dengan suara lantang layaknya bintang rocker papan atas.
Tidak lama, teman kami pun kembali dan membawa apa yang kami harapkan, ya 2 bungkus sosis dan 2 bungkus otak-otak ikan semacamnya (entah saya tidak tau nama makanan tersebut) , lalu kami bergegas untuk membuat arang dan mempersiapkan bumbu-bumbunya. Oh iya tidak lupa berbarengan itu teman saya membuka air perdamaian dituangkan dalam gelas dan berputar searah jarum jam. Yang sebelumnya kami bermain gitar dan benyanyi, kini digantikan oleh speaker bluetooth yang tersambung dengan Hp saya, tidak lain dan tidak bukan, sangatlah indah jika saya memutar lagu koplo, berjoget layaknya cacing yang sedang kepanasan, ngalor ngidul sampai akhirnya makanan yang kami bakar telah rampung. Sungguh aneh, yang awalnya saya lihat bahan makanan yang dibeli teman saya cukup banyak namun setelah selesai dibakar lebih sedikit dari awal yang saya lihat, hemm ingin rasanya membeli lagi, tapi yasudahlah, sebelum itu seperti anak muda dasarnya, kami berfoto-foto dan berpose, dengan Hp dual camera yang harganya cukup mahal.
Berbarengan dengan itu kami semua menyemili makanan yang telah selesai dibakar, sosis yang tertusuk pada bambu yang diukir kini hanya menyisahkan bambu tersebut, minuman terus berputar, kami bernyanyi mulai menaikan tempo ke nada tinggi yang sangat fals, persetan dengan suara bagus yang penting kami semua menikmati. Tidak terasa waktu pun hampir berganti, suara kembang api pun turut menyambut, dalam hitungan ke-3 hari tanggal dan tahun telah berganti, tidak luput dari arah yang tidak beraturan bersahut-sahutan suara kembang api dan menunjukan betapa indahnya dia jika di biarkan meledakan dirinya di atas langit sana. YASH HAPPY NEW YEAR GUYS!
Tidak terasa waktu terus berjalan dan hari semakin malam, semakin malam pun obrolan kami semakin tinggi, mulai dari setan, agama, kehidupan, berbagai topik kami bicarakan, hingga sampai terdengan adzan subuh, kami berhenti sejenak, dan beberapa teman menunaikan sholat subuh berjamaah. Pagi pun telah menunjukan dirinya, mata mulai tidak kuat lagi untuk terus bertahan, badan sudah cukup lemas, rasanya ingin membaringkan tubuh dan memejamkan mata. Selang itu satu perasatu teman saya mulai pamit untuk pulang kerumah masing-masing, menyisahkan saya dan 2 teman saya yang tinggal, karna rumah saya dekat, nanti sajalah, saya ingin merebahkan badan sejenak. Tidak terasa saya sudah tertidur kurang lebih selama 2jam-an bangun-bangun teman saya memberikan nasi padang, kami ber-3 pun makan terlebih dahulu, singkat itu saya langsung tertidur kembali, ahh sangat nikmat rasanya, tidak lama pun saya terbangun, tidak terasa waktu pun sudah sangat sore, kami yang tersisa pun bersiap dan bergegas untuk kembali kerumah.
Penutup
Terimakasih telah membaca tulisan saya yang kurang kompeten ini, jika ada kata yang salah atau kata yang kurang tepat atau ada kata yang menyudutkan suatu pihak, mohon dikritik di kolom komentar.
Untuk tahun yang akan datang, semoga mendatangkan hal-hal baik pastinya. AMIN!.
Akhir kata "TERIMAKASIH UNTUK TAHUN 2020 YANG SANGAT SINGKAT INI".
Post a Comment