-->

Pernikahan: Sebuah Cinta atau Sebuah Kontrak Sosial?


Pernikahan, bagi sebagian orang, adalah puncak dari sebuah cinta, sebuah mahkota yang melambangkan kemenangan hati atas logika. Namun, apakah benar cinta adalah alasan utama dari institusi yang telah dijunjung tinggi sejak ribuan tahun lalu ini? Atau, jangan-jangan, pernikahan hanyalah sebuah mekanisme sosial yang kita warisi?

Mari kita bicara tentang kontrak. Pernikahan, di atas kertas, adalah sebuah perjanjian hukum. Ada tanda tangan, saksi, dan bahkan konsekuensi baik secara finansial maupun emosional bagi pihak yang melanggar. Apakah cinta butuh disahkan dengan stempel dan dokumen? Jika cinta itu memang murni, apakah ia tidak bisa berdiri sendiri tanpa harus dikekang oleh aturan yang begitu kaku? Namun, suka atau tidak, hukum di Indonesia mengatur pernikahan sebagai sesuatu yang memiliki dasar hukum yang kuat. Di negara ini, pernikahan adalah sah jika dilakukan menurut agama, dan wajib dicatatkan ke negara. Tanpa pencatatan, pernikahan dianggap tidak memiliki dasar hukum, yang dapat berdampak pada hak-hak pasangan dan anak di kemudian hari. Aturan ini, meskipun memiliki tujuan untuk melindungi hak-hak pasangan, sering kali mengaburkan esensi cinta itu sendiri. Apa yang dimulai sebagai hubungan yang sederhana antara dua hati tiba-tiba berubah menjadi urusan administrasi dengan berbagai syarat dan dokumen yang harus dilengkapi. Tidak heran, banyak yang merasa pernikahan lebih seperti beban sosial daripada kebahagiaan pribadi.

Kemudian muncul slogan yang sering kita dengar: "Menikahlah agar rejekimu dipermudah" ini begitu lekat dalam budaya kita, seolah-olah menikah adalah pintu gerbang menuju limpahan rezeki yang tak pernah berhenti mengalir. Tapi, benarkah demikian? Bagaimana jika realitasnya tidak seindah itu? Banyak pasangan muda yang baru menikah justru menghadapi tekanan finansial, tuntutan hidup, dan kesenjangan ekspektasi. Apakah mereka kurang berdoa? Atau, mungkin, konsep "rezeki setelah menikah" ini lebih merupakan warisan narasi daripada fakta? Tidak sedikit pula anak jaman sekarang ingin cepat-cepat dinikahi atau menikah. Mereka mendambakan cinta yang "diresmikan" dan merasa bahwa pernikahan adalah solusi atas ketidakpastian hidup. Namun, apakah keinginan ini benar-benar datang dari diri mereka sendiri, atau hanya karena mereka terbawa oleh romantisasi pernikahan yang dipopulerkan media sosial dan budaya sekitar?

Pernikahan sebagai Norma yang Tidak Dipertanyakan

‘Menikah adalah standar yang harus dicapai sebelum usia tertentu’. Ketika saya mulai memasuki usia 20-an, obrolan tentang pernikahan menjadi semakin intens. Pertanyaan seperti, "Kapan nyusul?" atau "Sudah ada calon belum?" menjadi sesuatu yang hampir tidak bisa dihindari. Seolah-olah, pernikahan adalah puncak kehidupan seseorang, dan siapa pun yang belum menikah dianggap "belum selesai hidupnya." Tidak menikah dianggap sebagai kegagalan atau tanda bahwa seseorang "kurang lengkap." Namun, saya bertanya-tanya: apakah menikah benar-benar menandakan kedewasaan? Ataukah itu sekadar mengikuti aturan sosial tanpa berpikir panjang? Mungkin banyak seusia saya yang menikah hanya karena merasa "sudah waktunya." Tetapi siapa yang menentukan waktu itu? Apakah tekanan dari keluarga, omongan tetangga, atau unggahan teman di media sosial harus menjadi alasan seseorang menikah? Jika kita menikah hanya karena ingin terlihat "normal," apakah kita benar-benar menjalani hidup kita sendiri?

Saya pernah mendengar seseorang berkata, "Nikah itu nggak usah dipikirin ribet, kalau ada calonnya, nikah aja, nanti juga ketemu jalannya." Tetapi, bagi saya, pernikahan bukanlah keputusan sederhana seperti membeli kopi di warkop. Ini adalah komitmen seumur hidup yang akan memengaruhi setiap aspek kehidupan, dari finansial hingga emosional. Jika kita hanya menikah karena tekanan atau demi "menyesuaikan diri" dengan norma, bukankah itu berarti kita menyerahkan kendali hidup kita pada ekspektasi orang lain?

Bahkan mungkin ada yang beranggapan seperti, "Lu nulis kaya gini karena lu belum punya calon, kan?" Ya, saya belum punya calon, tapi bukan itu alasan saya berpikir seperti ini. Justru karena saya belum terjebak dalam struktur pernikahan, saya bisa melihatnya dengan lebih objektif. Saya melihat pernikahan bukan hanya sebagai hubungan dua orang, tetapi juga sebagai institusi sosial yang kompleks, penuh dengan ekspektasi, kompromi, dan tanggung jawab. Dan saya ingin memahaminya dengan matang sebelum memutuskan untuk melangkah.

"Nikah tinggal nikah kalau ada calonnya, nanti juga ketemu jalannya."

Pernyataan seperti ini terdengar sederhana, bahkan menenangkan, bukan? Seolah-olah pernikahan hanyalah langkah spontan yang bisa diatasi dengan sendirinya jika kita sudah menemukan pasangan yang tepat. Tapi apakah sesederhana itu? 

Pernikahan adalah komitmen jangka panjang yang melibatkan emosi, finansial, dan juga keluarga. Jika menikah semudah menemukan calon, mengapa ada begitu banyak pasangan yang akhirnya berpisah? Bukankah ini menunjukkan bahwa menemukan calon hanyalah permulaan dari perjalanan yang jauh lebih kompleks? Saya tidak menyangkal bahwa cinta adalah bagian penting dari pernikahan. Tapi cinta saja tidak cukup. Pernikahan juga membutuhkan kesabaran, komunikasi, dan kemampuan untuk menghadapi tantangan bersama. Bagaimana jika calon yang kita temukan ternyata tidak memiliki visi yang sama tentang masa depan?

Pernikahan tidak hanya melibatkan dua individu, tetapi juga dua keluarga. Ada harapan, tradisi, dan bahkan tekanan dari kedua belah pihak. Apakah kita benar-benar siap untuk menghadapi semua ini hanya dengan bermodalkan cinta? Selain itu, pernikahan juga membawa tanggung jawab finansial yang tidak kecil. Apakah kita sudah siap secara finansial untuk mendukung pasangan dan, mungkin, anak-anak di masa depan? Jika tidak, menikah hanya akan menjadi sumber stres, bukan kebahagiaan.

Pernyataan "nanti juga ketemu jalannya" mungkin dimaksudkan untuk memberi semangat atau mungkin dorongan, tapi sering kali ini justru menjadi alasan untuk tidak memikirkan konsekuensi dengan matang. Pernikahan bukanlah sesuatu yang bisa diselesaikan dengan improvisasi. Setiap orang memiliki perjalanan hidupnya masing-masing. Bagi sebagian orang, menikah di usia muda mungkin terasa tepat. 

Terkadang, tekanan untuk menikah membuat kita melupakan apa yang sebenarnya penting. Kita lebih fokus pada apa yang diinginkan orang lain daripada apa yang kita butuhkan. Saya ingin percaya bahwa menikah adalah keputusan besar yang harus diambil dengan penuh kesadaran, bukan hanya karena ada calon atau karena merasa "sudah waktunya." Pernyataan "nanti juga ketemu jalannya" mengabaikan fakta bahwa pernikahan adalah proses belajar yang terus-menerus. Kita tidak hanya belajar tentang pasangan kita, tetapi juga tentang diri kita sendiri. Jadi, apakah menikah benar-benar sesederhana itu? Saya rasa tidak. Pernikahan adalah tentang kesadaran, persiapan, dan kemauan untuk bekerja keras demi menjaga hubungan tetap harmonis.

Sebagai pria 25 tahun yang belum menikah, saya lebih memilih untuk menunggu waktu yang tepat daripada mengambil keputusan yang tergesa-gesa. Bukankah lebih baik terlambat tapi tepat, daripada cepat tapi salah? Terkadang saya sering merenungkan bagaimana pernikahan telah menjadi topik yang terus menghantui usia saya. Beberapa kali, saya bahkan “ditinggal nikah” oleh perempuan yang pernah dekat dengan saya AHHAHAHA. Rasanya seperti kehilangan sesuatu yang tidak pernah benar-benar menjadi milik saya. Tentu, ada perasaan pahit. Tapi di sisi lain, pengalaman itu memaksa saya untuk bertanya: Apakah menikah benar-benar menjadi solusi atas semua keresahan kita?

Komitmen atau Perangkap Modern?

Kadang, saya berpikir, apakah pernikahan di era modern ini lebih mirip perangkap daripada komitmen? Saya sering mendengar cerita dari teman-teman yang menikah muda. Beberapa dari mereka awalnya penuh cinta dan optimisme, tetapi lambat laun, pernikahan itu berubah menjadi sesuatu yang mengekang. Ada yang merasa terjebak dalam rutinitas monoton, ada yang mulai kehilangan jati diri, dan ada yang bahkan merasa pernikahan telah merampas kebebasan yang dulu mereka nikmati.

Saya tidak mengatakan bahwa pernikahan itu buruk secara universal, tetapi jika kita lihat realitasnya, pernikahan sering kali menjadi lebih seperti kontrak sosial yang penuh tuntutan. Ada ekspektasi untuk menghasilkan keturunan, membeli rumah, memenuhi standar kehidupan tertentu, hingga mempertahankan citra keluarga di depan masyarakat. Apa yang terjadi jika salah satu pasangan merasa tidak mampu memenuhi ekspektasi ini? Apakah cinta cukup untuk menutup celah-celah tersebut?

Lebih liar lagi, ada anggapan bahwa menikah adalah cara untuk "mengamankan pasangan" dari ancaman orang ketiga. Tetapi apakah benar kita perlu mengikat seseorang dengan pernikahan hanya untuk memastikan dia tidak "diambil orang"? Bukankah cinta seharusnya bebas, tanpa perlu dijaga dengan dokumen resmi atau janji di depan penghulu? Saya sering merasa bahwa pernikahan di zaman sekarang lebih banyak didorong oleh rasa takut kehilangan daripada rasa cinta yang murni.

Saya tidak bisa mengabaikan fenomena bagaimana pernikahan sekarang sering kali menjadi ajang pamer di media sosial. Dari prewedding yang megah hingga pesta pernikahan yang mewah, semuanya seolah-olah dirancang untuk mendapatkan "likes" dan pujian dari orang lain. Namun jika itu membuat mereka bahagia, sah-sah saja. Karena pada akhirnya, kebahagiaan memiliki banyak bentuk, dan siapa kita untuk menghakimi? Yang jelas, prewedding dan pesta mewah bukanlah ukuran kebahagiaan atau kesuksesan pernikahan. Jika itu memang keinginan mereka, maka biarkan itu menjadi ekspresi cinta mereka. Tapi jika ada yang memilih untuk menikah sederhana, kita pun harus belajar untuk tidak memandangnya sebelah mata. Toh, pada akhirnya, esensi pernikahan adalah kebahagiaan antara dua hati, bukan sekadar apa yang terlihat oleh mata orang lain.

Tetapi, apakah pernikahan benar-benar tentang itu? Saya bertanya-tanya, berapa banyak dari pasangan muda ini yang sebenarnya menikah karena cinta, dan berapa banyak yang menikah karena ingin "mengikuti tren"? saya tidak bisa tidak skeptis. Ketika melihat mereka memposting foto-foto indah, saya selalu bertanya dalam hati, "Apakah mereka benar-benar bahagia, atau hanya terlihat bahagia?".

Namun, di tengah semua itu, muncul fenomena yang tidak bisa kita abaikan: banyak bocah jaman sekarang yang menikah karena MBA - Married by Accident. Dalam banyak kasus, ini bukan karena mereka benar-benar ingin menikah, melainkan karena terpaksa. Tekanan moral, sosial, dan agama membuat mereka merasa tidak ada pilihan lain selain "menghalalkan" hubungan yang sebenarnya belum matang secara emosional maupun finansial. Apakah salah menikah karena MBA? Tentu saja tidak. Semua orang punya hak atas keputusan hidupnya. Tapi pertanyaan yang lebih besar adalah: Apakah mereka benar-benar siap menjalani pernikahan? Pernikahan adalah komitmen besar, bukan sekadar solusi dari kesalahan yang tidak direncanakan. Dan ketika seseorang menikah hanya untuk menutupi aib, ada risiko besar bahwa hubungan itu tidak dibangun di atas dasar yang kokoh.

Di sisi lain, ada juga stigma yang terus melekat. Ketika anak muda menikah karena MBA, mereka sering kali dihakimi oleh masyarakat sekitar. Padahal, bukankah lebih baik mendukung mereka untuk tumbuh bersama daripada terus mempermalukan mereka atas kesalahan masa lalu? Namun, kenyataannya, stigma ini tidak pernah benar-benar hilang, dan tekanan sosial ini sering kali menjadi sumber masalah baru dalam pernikahan mereka. Sebagai seseorang yang sering ditanya, “Kapan menikah?”, saya tidak bisa menutup mata terhadap ekspektasi masyarakat yang terus memburu kita, terutama di usia 20 ke atas. “Nanti keburu tua.” “Kalau menikah rejekimu lancar.” Atau, yang lebih mengganggu, “Kamu takut nikah, ya?” Semua pertanyaan itu terasa mengganggu, apalagi ketika saya sendiri merasa belum menemukan alasan yang cukup kuat untuk melangkah ke jenjang pernikahan. Tekanan sosial untuk menikah juga semakin nyata dalam bentuk stereotip kebahagiaan. Kita diajarkan bahwa pernikahan akan membawa kebahagiaan dan stabilitas hidup. Namun, banyak pasangan yang justru menyadari bahwa menikah bukanlah akhir dari perjuangan, melainkan awal dari tantangan baru. Pernikahan membutuhkan komitmen, pengorbanan, dan kemampuan untuk terus beradaptasi. 

Orang-orang dulu sering memandang pernikahan sebagai solusi atas segala masalah. “Menikahlah, nanti ada rezeki anak,” atau, “Kalau sudah menikah, semuanya akan dimudahkan.” Tapi kenyataannya, hidup tidak sesederhana itu. Rezeki, kebahagiaan, dan kesuksesan bukanlah hasil otomatis dari pernikahan. Semua itu membutuhkan usaha, doa, dan mungkin sedikit keberuntungan. Pernikahan seharusnya menjadi pilihan, bukan kewajiban. Pernikahan bukan tentang menyenangkan orang lain, melainkan tentang menemukan kebahagiaan bersama seseorang yang benar-benar dipilih dengan hati, bukan karena desakan waktu atau norma sosial.

jika menikah atas dasar cinta, lalu mengapa ada yang namanya perpisahan?

Pertanyaan ini sering menghantui saya setiap kali mendengar kabar tentang perceraian. Saya merasa bahwa pernikahan adalah sesuatu yang sakral, sesuatu yang tak seharusnya mudah diakhiri. Tapi kenyataannya, angka perceraian terus meningkat, bahkan di kalangan pasangan muda. Mengapa ini bisa terjadi? Apakah cinta saja memang tidak cukup untuk menopang pernikahan? Dalam banyak kasus, saya melihat bahwa cinta sering kali dikalahkan oleh realitas kehidupan. Ketika pasangan mulai menghadapi tantangan seperti keuangan, perbedaan nilai, atau bahkan tekanan keluarga, cinta yang dulu begitu kuat tiba-tiba menjadi rapuh.

Pernikahan adalah komitmen jangka panjang, bukan sekadar pesta sehari. Namun, banyak dari kita yang lebih fokus pada romansa awal hubungan daripada kesiapan untuk menghadapi hidup bersama. Apakah ini yang menjadi akar masalah? Tak sedikit pasangan muda yang akhirnya berpisah karena perbedaan visi. Mungkin di awal mereka saling mencintai, tetapi seiring berjalannya waktu, mereka menyadari bahwa mereka menginginkan hal-hal yang berbeda dalam hidup.

Saya pernah mendengar seseorang berkata, "Cinta itu sederhana, tapi kita yang membuatnya rumit." Tapi apakah pernikahan bisa sesederhana itu? Jika ya, mengapa banyak pasangan yang akhirnya menyerah? Apakah mungkin masalahnya adalah ekspektasi. Banyak dari kita yang masuk ke dalam pernikahan dengan harapan yang terlalu tinggi. Ketika realitas tidak sesuai dengan harapan, kita merasa kecewa dan mulai mencari jalan keluar.

Saya juga berpikir tentang peran media sosial dalam membentuk ekspektasi tentang pernikahan. Kita sering melihat pasangan yang terlihat sempurna di Instagram, tetapi kita tidak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi di balik layar. Ada juga yang mengatakan bahwa pernikahan adalah tentang saling melengkapi. Tapi apa yang terjadi jika dua orang yang menikah sebenarnya belum sepenuhnya mengenal diri mereka sendiri? Bagaimana mereka bisa melengkapi satu sama lain jika mereka tidak tahu apa yang mereka butuhkan?

Pernikahan bukan hanya tentang cinta, tetapi juga tentang kompromi, pengertian, dan kemauan untuk terus bekerja sama. Jika salah satu dari elemen ini hilang, cinta saja tidak akan cukup untuk mempertahankan hubungan.Saya sering bertanya-tanya, apakah pasangan yang akhirnya berpisah benar-benar mencoba segala cara untuk mempertahankan hubungan mereka? Atau apakah mereka menyerah terlalu cepat? Pada akhirnya, saya percaya bahwa perpisahan adalah pilihan yang sah jika itu adalah jalan terbaik untuk kedua belah pihak. Namun, ini juga menjadi pengingat bahwa pernikahan bukanlah sesuatu yang bisa dianggap enteng.

Jadi, jika pernikahan adalah tentang cinta, mengapa ada perpisahan? Mungkin jawabannya adalah bahwa cinta saja tidak cukup. Pernikahan membutuhkan lebih dari itu, kesabaran, pengertian, dan kemauan untuk terus belajar dan bertumbuh bersama.

Disisi lain tentu juga banyak pasangan muda yang menikah dan terlihat bahagia. Dan saya tidak menyangkal bahwa kebahagiaan itu nyata. Tapi perlu diingat, kebahagiaan dalam pernikahan tidak hanya diukur dari senyuman di media sosial atau potret harmonis yang terlihat dari luar. Ada dimensi yang lebih dalam, yang sering kali tidak kita lihat: perjuangan mereka, kompromi yang tak terhitung jumlahnya, dan mungkin juga pengorbanan yang tidak pernah mereka ceritakan.

saya beranggapan pernikahan seperti gunung es. Apa yang terlihat di permukaan bahagia, harmonis, dan penuh cinta adalah sebagian kecil dari apa yang sebenarnya terjadi di bawahnya. Setiap pasangan punya cerita mereka sendiri, dan saya yakin banyak pasangan muda yang menikah memang mampu menemukan kebahagiaan itu. Namun, saya juga bertanya: apakah mereka benar-benar bahagia karena pernikahan, atau karena mereka sudah memiliki dasar yang kuat sebelum menikah?

Banyak pasangan muda yang berhasil karena mereka memiliki visi yang sama, komunikasi yang baik, dan kesiapan mental untuk menghadapi kehidupan bersama. Tapi itu bukan jaminan. Karena pernikahan adalah proses panjang, bukan garis akhir. Bahagia saat ini tidak berarti tidak ada tantangan besar di depan.

Saya tidak ingin terdengar skeptis atau merendahkan kebahagiaan orang lain, tapi pengalaman dan cerita dari teman-teman yang sudah menikah mengajarkan saya bahwa ada banyak lapisan dalam pernikahan. Ada pasangan yang bahagia di depan umum, tapi menghadapi konflik besar di balik pintu tertutup. Ada pula yang memang tulus bahagia karena mereka benar-benar sudah siap secara mental, emosional, dan finansial. Jadi, kebahagiaan mereka adalah hasil dari kerja keras, bukan sekadar keputusan untuk menikah saja.

Pernikahan tidak menjamin kebahagiaan, tapi kesiapan kita untuk menjalani prosesnya yang menjadi kunci. Jika seseorang benar-benar bahagia dalam pernikahan mudanya, itu tentu hal yang patut diapresiasi. Tapi bagi saya, kebahagiaan dalam pernikahan adalah perjalanan, bukan hasil instan. Jadi, alih-alih hanya melihat kebahagiaan mereka sebagai inspirasi untuk segera menikah, saya lebih memilih belajar dari bagaimana mereka bisa mencapainya. Apa yang membuat mereka tetap kuat? Apa yang mereka korbankan? Itu yang ingin saya pahami sebelum mengambil keputusan besar dalam hidup ini.

Ketika melihat teman-teman yang sudah menikah, saya tidak bisa mengabaikan rasa iri sekaligus kekhawatiran. Ada yang terlihat bahagia, ada yang tampak kewalahan, dan ada juga yang terjebak dalam rutinitas tanpa arah. Pernikahan, bagi mereka, bukanlah dongeng seperti yang sering digambarkan. Ada perjuangan, air mata, dan kadang keinginan untuk menyerah. Saya juga sering bertanya-tanya, bagaimana generasi kita melihat pernikahan di era modern ini? Apakah pernikahan masih memiliki makna yang sama seperti dulu, atau sudah berubah menjadi semacam “tiket sosial” untuk diakui sebagai orang dewasa? Di media sosial, kita melihat pernikahan dirayakan dengan pesta besar, gaun mahal, dan unggahan yang penuh kebahagiaan. Tapi, setelah pesta usai dan tamu pulang, apa yang sebenarnya tersisa?

Tekanan untuk menikah tidak hanya datang dari keluarga atau masyarakat, tapi juga dari diri sendiri. Banyak anak muda yang merasa tidak “cukup” jika mereka belum menikah di usia tertentu. “Teman-temanku sudah menikah, kapan giliranku?” atau “Apa yang salah dengan diriku?” adalah pertanyaan-pertanyaan yang sering muncul. Pada akhirnya, menjadi simbol pencapaian, bukan sekadar pilihan hidup. Di tengah tekanan ini, kita sering lupa untuk bertanya pada diri sendiri: apakah kita benar-benar siap? Apakah kita menikah karena kita ingin, atau karena kita merasa harus? Pernikahan seharusnya menjadi keputusan yang datang dari hati, bukan dari tekanan luar. Tapi, realitasnya, tidak sedikit yang menikah hanya untuk memenuhi ekspektasi orang lain.

Tapi apakah ini berarti pernikahan adalah sesuatu yang buruk? Tidak juga. Bagi saya, pernikahan adalah tentang menemukan seseorang yang benar-benar bisa menjadi partner dalam hidup. Bukan sekadar pasangan, tapi juga teman, pendukung, dan rekan dalam menghadapi segala hal. Tapi, untuk mencapai itu, dibutuhkan lebih dari sekadar cinta. Pada akhirnya, pernikahan adalah pilihan pribadi yang tidak bisa diseragamkan oleh aturan, tradisi, atau ekspektasi masyarakat. Bagi sebagian orang, pernikahan adalah bentuk cinta tertinggi, sedangkan bagi yang lain, ia hanyalah sebuah langkah yang terlalu besar untuk diambil tanpa keyakinan mendalam. Di tengah tekanan sosial, hukum yang mengatur, dan romantisme yang sering kali dilebih-lebihkan, setiap individu berhak menentukan jalan hidupnya sendiri. Pernikahan, jika memang dijalani, seharusnya menjadi keputusan yang lahir dari kesadaran penuh, bukan paksaan atau rasa takut akan penilaian orang lain. Karena pada akhirnya, kebahagiaan tidak datang dari status "sudah menikah" atau "belum menikah," tetapi dari bagaimana kita jujur pada diri sendiri dan menjalani hidup sesuai dengan nilai-nilai yang kita yakini. Jadiii kapan lu nikah?